Filsafat modern

BAB I
PENDAHULUAN
A.Latar Belakang Masalah
Zaman filsafat modern dimulai sejak adanya krisis zaman pertengahan selama dua abad yang ditandai dengan munculnya gerakan Renaissance.  Dimana pada masa itu para ahli pikir berupaya melepaskan diri dari dogma-dogma agama, karena bagi mereka citra filsafat yang paling bergengsi adalah saat zaman Yunani klasik. Oleh karena itu, mereka mendambakan kelahiran kembali filsafat yang bebas, yang tidak terikat pada ajaran agama.
Corak pemikiran filsafat pada abad modern ini kembali pada masalah “Antroposentris”, yang serupa dengan zaman Yunani klasik.  Namun, lebih menggunakan kemampuan akal pikir manusia sehingga manusia tidak lagi memusatkan pikirannya kepada tuhan dan surga.
Dalam era filsafat  modern, yang dilanjutkan dengan era filsafat abad ke-20, muncul berbagai aliran pemikiran. Aliran yang menjadi pendahuluan ajaran filsafat modern ini didasarkan pada suatu kesadaran yang individual dan yang konkret. Berbagai aliran pemikiran yang muncul itu diantaranya adalah materialisme, neo-kantianisme, pragmatisme, dan filsafat hidup.
Filsafat modern

B.Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakan di atas terdapat berberapa rumusan masalah sebagai berikut :
1.Apa pengertian dan pemikiran tokoh tentang materialisme?
2.Bagaimana pandangan materialisme tentang manusia?
3.Apa pengertian dan pandangan mazhab tentang neo-kantianisme?
4.Apa pengertian dan pemikiran tokoh tentang pragmatisme?
5.Apa pengertian fisafat hidup?
BAB II
PEMBAHASAN
I.Pengertian dan Pemikiran Tokoh tentang Materialisme
A.Pengertian Materialisme
Materialisme merupakan sebuah aliran yang menyatakan bahwa hakikat dari sesuatu yang ada itu adalah materi. Dan materi itu lahir  dari sesuatu yang ada. Ajaran etika paham materialisme ini hanya mementingkan kebahagian yang bersifat fisik semata.
Dalam terminologi filsafat, materialisme (atau naturalisme) mengacu pada sebuah pandangan filosofis yang menyatakan bahwa materi yang bergerak adalah konstituen yang fundamental dari alam semesta.  Dalam pengertian ini, filosof-filosof Yunani pra-Socrates termasuk filosof materialisme, meskipun mereka tidak materialis dalam aturan nilai atau prinsip etis.
Sedangkan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, materialisme adalah paham filsafat yag menyatakan segala sesuatu yang terjadi di dunia ini disebabkan oleh (atau bersumber pada) benda.
B.Pemikiran Tokoh tentang Materialisme
1)Julien de Lamettrie (1709-1751)
Beliau mengungkapkan pemikirannya bahwa binatan dan mausia tidak ada bedanya, karena semua dianggap sebagai mesin.  Sebuah badan tanpa jiwa memungkinkan masih bisa bergerak atau hidup, sedangkan sebuah jiwa tanpa badan tidak mungkin hidup atau bergerak. Jiwa manusia disamakan dengan fungsi mesin, namun mesin itu berbeda dengan mesin-mesin yang lain. Mesin itu dapat memutar dan bergerak dengan sendirinya. Sebagai pembuktiannya adalah ketika jantung seekor katak dikeluarkan dari tubuhnya masih bisa berdenyut walaupun hanya beberapa saat saja.
2)Ludwig Feueurbach (1804-1872)
Beliau adalah seorang filosof materialisme alam. Menurut pendapat beliau baik pengetahuan maupun tindakan berlaku adigum, artinya terimalah yang ada, bila menolak agama/metafisika.  Apabila kita menolak doktrin yang bersifat dogmatis maka kita hanya bisa pasrah menerima yang ada saat ini. Feueurbach juga membedakan antara objek inderawi dengan obkek berpikir.  Objek realitas yang kita tangkap melalui indera hanya mampu dipahami dalam bentuk kontemplasi, bukan sebagai aktivitas manusia yang inderawi. Dan aktivitas manusia itu sebagai praktek yang tidak secara subjektif
3)Karl Marx (1818-1883)
Sebenarnya Marx tidak pernah menggunakan istilah materialisme historis atau materialisme dialektis, dia memakai istilahnya sendiri, yakni metode dialektika.  Dengan istilah metode dialektia, dia mengacu pada kondisi-kondisi fundamental eksistensi manusia.
Menurut pendapatnya, tugas seorang filosof bukan untuk menerangi dunia melainkan untuk mengubahnya. Hidup manusia ditentukan oleh keadaan ekonominya. Hasil dari segala tindakannya seperti; ilmu, seni, agama, hukum, politik, dan kesusilaan, semua itu hanya endapan dari keadaan tersebut, sedangkan keadaan itu sendiri ditentukan dalam sejarah. Dan sejarah itu sendiri berangkat dari manusia yang nyata dengan kondisi-kondisi ekonomi dan sosial tempat mereka hidup, bukan berangkat dari ide-ide mereka.
Penafsiran materialistik atau ekonomis Marx terhadap sejarah tidak berkaitan dengan perjuangan materialistik atau ekonomi sebagai dorongan yang paling fundamental pada diri manusia. Hal ini berarti bahwa manusia yang nyata benar-benar hidup bukan ide-ide yang diciptakan oleh individu-individu ini adalah pokok bahasan dalam sejarah dan pokok bahasan untuk memahami hukum-hukum sejarah. Penfsiran Marx atas sejarah dapat disebut sebagai penafsiran antropologis, jika kita hendak menghindari ambiguitas kata materialistik dan ekonomis, inilah pemahaman sejarah yang didasarkan pada fakta bahwa manusia adalah “pengarang dan aktor sejarahnya sendiri.”
Jadi, dapat disimpulkan bahwa materialisme menurut Marx tidak selalu mengklaim bahwa kebutuhan manusia dan hasratnya adalah untuk memperoleh materi dan kesenangan saja.
II.Pandangan Materialisme tentang Manusia
Hakikat kesadaran manusia itu berubah sejalan dengan tingkah lakunya. Tingkah laku manusia itu dihubungkan dengan kehidupan dan penyediaan  kebutuhan material. Jika hal-hal materi merupakan faktor penentu tingkah laku manusia, maka itu merupakan wujud dalil teori materialisme ekonomis.
Marx juga menegaskan kemenangan kebendaan di atas jiwa, karena jiwa timbul di dalam benda bukan lantaran ciptaan ghoib. Dengan demikian, eksistensi manusia itu semata-mata ada dalam kesadaran yang ditentukan oleh modus kebendaannya.
Sedangkan memandang manusia menggunakan dasar-dasar materialistic monistic yang digunakan oleh Karl Marx mempunyai dasar kesimpulan bahwa, kesadaran dan tingkah laku manusia ditentukan oleh keberadaan materi semata, perkembangan sosial ditandai dengan adanya konflik antarkelas sesuai dengan kesadaran materi dari kelas-kelas tersebut yang pada prinsipnya saling bertentangan, dan sejarah manusia itu merupakan deterministik yang bisa malalui jalan pintas revolusi kaum buruh.
III.Pengertian dan Pandangan Mazhab tentang Neo-kantianisme  
A.Pengertian Neo-kantianisme
Pada pertengahan abad ke-19 di Jerman terjadi sebuah perhatian baru terhadap sistem filosofis lama. Diantara aliran paling penting di Jerman adalah neo-kantanisme. Neo-kantianisme adalah upaya untuk menanggulangi cara berpikir positivistik pada abad kesembilanbelas dengan jalan berbalik kepada pemikiran kritik ajaran Kant.  Gerakan neo-kantianisme mencapai puncaknya sekitar abad ke-20. Namun, pada saat itu namanya hanya kantianisme karena pada saat itu belum dihasilkan pemikiran yang boleh disebut baru.
Usaha neo-kantianisme ini dapat dipandang sebagai reaksi atas materialisme dan positivisme pada waktu itu. Bantuan dari filsafat Kant juga diharapkan dapat memecahkan persoalan-persoalan baru yang muncul akibat dari perkembangan ilmu pengetahuan yang pesat.
Jadi, neo-kantianisme adalah sebuah gerakan para murid Kant yang ingin kembali ke filsafat kritis yang bebas dari spekulasi idealisme dan bebas dari dogmatis positivisme serta materialisme.
B.Pandangan mazhab tentang neo-kantianisme
1)Mazhab Marburg
Tokoh-tokoh yang memimpin mazhab Marburg ialah Hermann Cohen (1842-1912) dan Paul Natrop (1854-1924). 
Mazhab Marburg sangat menekan pentingnya kesatuan logik dalam pemikiran, meskipun mazhab Marburg menolak metafisika aliaran mazhab ini sangat dekat dengan ajara Hegel.. Para pengikut mazhab Marburg mengutamakan ilmu-ilmu alam, karena bagi mereka ilmu alam merupakan ilmu yang derajatnya paling tinggi disamping matematika formal murni.
Sedangkan dalam memandang filsafat kaum Marburg  memandangnya sebagai analisis logik mengenai syarat-syarat bagi usaha mengetahui serta berkehendak. Kaum Marburg, seperti halnya Kant, masalah berkehendak ditentukan semata-mata secara formal. Namun, berlawanan dengan Kant mereka memberikan pengetahuan kepada theoresche vernunft tidak kepada praktische vernunft.
2)Mazhab Baden
Tokoh –tokoh yang memimpin mazhab Baden  ialah Wilhelm Windelband (1848-1915) dan Heinrich Ricket (1863-1936).  W, Windelband pernah mengeluarkan sebuah perkataan yaitu Kant verstehen heisst iiber ihn herausgehen (mengerti Kant berarti malampaui dia).  Dalam hal ini kita berusaha berfilsafat dengan cara yang digunakan  oleh Kant dengan membuka perspektif baru.
Mazhab Baden berpegangan pada ajaran Lotze dan menempatkan masalah nilai di pusat pikiran. Mazhab Baden juga mengutamakan struktur anatara ilmu-ilmu alam dengan ilmu kerohanian, dan berusaha untuk mempertahankan sifat khas yang dipunyai ilmu-ilmu kerohanian terhadap ilmu-ilmu alam. Meskipun mazhab Marburg dan mazhab Baden mempunyai aliran yang sama, namun mazhab Baden mengalami perkembangan yang berbeda dari mazhab Marburg. Mazhab Baden tidak mengutamakan pendekatan logik terhadap kenyataan, melainkan mengutamakan masalah bentuk yang berbeda–beda yang di dalamnya menjelma sebuah kenyataan yang tidak mungki menggambarkan berlakunya satu pola umum pengetahuan belaka. Mazhab ini membedakan sejumlah lingkungan yang ada, yaitu kenyataan empirik, pemikiran, dan nilai-nilai. 
IV.Pengertian dan Pemikiran Tokoh tentang Pragmatisme
B.Pemikiran Tokoh tentang Pragmatisme1)William James (1842-1910)
James mengemukakan bahwa tidak ada kebenaran yang mutlak, yang berlaku umum, yang bersifat tetap, yang berdiri sendiri, dan terlepas dari segala yang mengenal.  Karena kebenaran merupakan suatu proses yang dinamis dan fungsional. Pengalaman kita akan terus berjalan dan segala yang kita anggap benar dalam perkembangan pengalaman akan senantiasa berubah. Nilai pengalaman dalam pragmatisme tergantung pada akibatnya, artinya tergantung pada keberhasilan dari perbuatan yang disiapkan oleh suatu pertimbangan. Dan suatu pertimbangan itu benar jika memberi manfaat bagi pelakunya.
Pragmatisme James pada dasarnya merupakan filsafat untuk bertindak. Pragmatisme James bersifat voluntaristis, penekanannya pada pentingnya faktor usaha dan kesukarelaan dalam keputusan memperjelas sesuatu.
Dalam instrumentalisme ada tiga aspek yang menjadi perhatian yaitu temporalisme yang berarti bahwa ada gerak dan kemajuan nyata dalam waktu, futurisme yang berarti mendorong kita untuk melihat hari besok bukan melihat hari kemarin, dan milionarisme yang berarti bahwa dunia dapat dibuat lebih baik dengan tenaga kita. Jadi, menurut pandangan di atas sesuatu yang benar itu adalah sesuatu yang pada akhirnya disetujui oleh semua orang yang menyelidikinya.V.Pengertian Filsafat Hidup
Filsafat hidup merupakan sebuah cabang ilmu yang membahas manusia. Dimana manusia menjadi objek studinya. Dalam cabang ilmu filsafat ini manusia mengajukan pertanyaan mengenai diri merkea sebagai manusia . Titik tolak filsafat hidup manusia adalah pengetahuan dan pengalaman manusia serta dunia yang mengelilinginya.
Seorang tokoh filsafat hidup yangt terkenal adalah Henri Bergson. Beliau mengemukakan beberapa buah pikiran tentang hidup, naluri, akal, intuisi, dan agama.
a)Hidup
Menurut Bergson, hidup adalah suatu tenaga eksplosif  yang telah ada sejak awal dunia, yang berkembang dengan melawan penahan atau pertentangan materi ( yaitu sesuatu yang lamban yang menentang gerak, yang oleh akal dipandang sebagai materi atau benda).  Jikalau gerak perkembangan hidup ini digambarkan sebagai gerak ke atas, maka materi perkembangan hidup ini digambarkan sebagai gerak ke atas itu. Dalam perkembangannya sebagai gerak ke atas, hidup mempunyai penahan gerak ke bawah itu.
b)Naluri
Naluri adalah tenaga bawaan kelahiran yang digunakan utuk memanfaatkan alat-alat organis tertentu dengan cara tertentu. Kerja naluri terjadi secara otomatis dan naluri semata-mata digerakkan kearah kepentingan kelompok. Oleh karena itu, sifat individual ditaklukkan oleh sifat kelompok.
c)Akal
Akal yang dimiliki manusia merupakan kecakapan untuk menciptakan alat-alat kerja bagi dirinya dan secara bebas mengubah pembuatan alat kerja tersebut. Akal mencakapkan manusia untuk menyadarkan diri akan kepentingan tiap indvidu. Namun, akal tidak dapat dipakai untuk menyelami hakikat yang sebenarnya dari segala kenyataan, sebab akal merupakan hasil perkembangan dalam proses hidup. Akal hanya mampu menyelami ke dalam hakikat segala sesuatu.
d)Instuisi (al-hadas)
Instuisi adalah tenaga ruhani, suatu kecakapan, yang dapat melepaskan diri dari akal, kecakapan untuk menyimpulkan serta meninjau dengan sadar. Dan instuisi digunakan untuk menyelami hakikat dari segala kenyataan.
e)Agama
Bergson membagi agama  menjadi dua macam, yaitu sebagai berikut.
(1)Agama yang statis
Agama yang statis merupakan agama yang timbul karena adanya hasil karya perkembangan. Dalam perkembangan ini alam telah memberikan kecakapan pada manusia untuk menciptakan dongeng-dongeng, membantu manusia memikul kesadaran yang pahit dengan khayalan-khayalan. Oleh karena itu, timbul agama sebagai alat bertahan dari segala sesuatu yang dapat menjadikan manusia putus asa.
(2)Agama yang dinamis
Agama yang dinamis adalah agama yang diberikan oleh instuisi. Dengan perantara agama inilah manusia dapat berhubungan dengan asas yang lebih tinggi, yang lebih berkuasa dari dirinya sendiri. Bentuk agama yang paling tinggi adalah mistik yang secara sempurna terdapat dalam agama Kristen. Itulah hidup Bergson yang besar pengaruhnya di Prancis.
Bagi Bergson, filsafat adalah kesadaran dan refleksi yang merujuk kepada data yang langsung diperoleh dari intuisi. Ia mengklarifikasikan akal sebagai suatu fakulti personal, sambil menekankan bahwa filosof secara terlebih dahulu mengikuti titik pandang yang dipilihnya. Ia menganggap filosof sabagai orang yang menghadapi pikiran yang esensial agar dapat menemukan kondisi-kondisi dari totalitas pengetahuan.
BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
1.Materialisme adalah paham filsafat yag menyatakan segala sesuatu yang terjadi di dunia ini disebabkan oleh (atau bersumber pada) benda.
2.Hakikat kesadaran manusia itu berubah sejalan dengan tingkah lakunya. Tingkah laku manusia itu dihubungkan dengan kehidupan dan penyediaan  kebutuhan material.
3.Neo-kantianisme adalah sebuah gerakan para murid Kant yang ingin kembali ke filsafat kritis yang bebas dari spekulasi idealisme dan bebas dari dogmatis positivisme serta materialisme.
4.Pragmatisme merupakan suatu aliran yang mengajarkan bahwa yang benar adalah apa saja yang membuktikan dirinya sebagai sesuatu yang benar dengan akibat-akibat yang bermanfaat secara praktis.
5.Filsafat hidup merupakan sebuah cabang ilmu yang membahas manusia dimana manusia menjadi objek studinya.
DAFTAR PUSTAKA
Achmadi, Asmoro. 2014. FILSAFAT UMUM. Jakarta : Rajawali Pers
Mustansyir, Rizal. 2001. FILSAFAT ANALITIK. Yogyakarta : Pustaka Pelajar
Fromm, Erich. 2001. KONSEP MANUSIA MENURUT  MARX. Yogyakarta : Pustaka Pelajar
Tim Penyusun KBBI. 2008. KAMUS BESAR BAHASA  INDONESIA. Jakarta : Pusat Bahasa Departmen Pendidikan Nasional
Muzairi . 2002. EKSISTENSIALISME  JEAN PAUL SARTRE. Yogyakarta : Pustaka Pelajar
Delfgaauw, Bernard. 1988. FILSAFAT ABAD 20. Yogyakarta : PT Tiara Wacana Yogya
Bertens, K. 1981. FILSAFAT BARAT ABAD XX. Jakarata : Gramedia
Praja, Juhaya S. 2003. ALIRAN-ALIRAN FILSAFAT dan ETIKA. Jakarta : Kencana Prenadamedia Group
Tafsir, Ahmad. 2002. FILSAFAT UMUM. Bandung : PT Remaja Rosdakarya
Luis, Helly. 1984. MANUSIA SEBUAH MISTERI. Jakarta : Gramedia

Popular Posts

Follow Me